PEMIKIRAN MARCUS TULLIUS CICERO

A. PENDAHULUAN

Peradaban Yunani-Romawi berhutang budi pada peradaban kuno mesopotamia, Mesir, India, Kreta dan persia. Sejarah peradaban di Romawi Kuno tidak terlepas dari pengaruh Yunani Kuno. Peradaban Romawi seringkali dikelompokan sebagai “klasik antik” bersama dengan Yunani kuno, sebuah peradaban yang menginspirasikan banyak budaya Romawi Kuno . Peradaban Romawi seringkali dikelompokan sebagai “klasik antik” bersama dengan Yunani kuno, sebuah peradaban yang menginspirasikan banyak budaya Romawi Kuno. Romawi Kuno menyumbangkan banyak kepada pengembangan hukum, perang, seni, literatur, arsitektur, dan bahasa dalam dunia Barat, dan sejarahnya terus memiliki pengaruh besar dalam dunia sekarang ini.Untuk emas tidak lain adalah Yunani dan untuk kebijaksanaan yang tidak lain adalah Romawi (Poe, To Helen)
Romawi Kuno adalah sebuah peradaban yang tumbuh dari negara-kota Roma didirikan di Semenanjung Italia. Romawi memulai sejarahnya di puncak dan lembah tujuh bukit di samping sungai Tiber. Kota ini didirikan oleh Romulus, seorang keturunan Aeneas pada tahun 753 SM. Dari negara-kota yang terajut sangat dekat dan padat, Romawi meluas menjadi satu-satunya negara yang mencakup seluruh wilayah mediterania. Sejak pendiriannya hingga tahun 509 SM, Romawi diperintah oleh banyak Raja; tahun 509 hinga 27 SM ia menjadi negara Republik, dan sejak 27 SM hingga masa kejatuhannya negara itu diperintah oleh banyak kaisar.
Peradaban Romawi dikembangkan Suku Latia yang menetap di lembah Sungai Tiber. Suku Latia menamakan tempat tinggal mereka ‘Latium’. Latium merupakan kawasan lembah pegunungan yang tanahnya baik untuk pertanian. Penduduk Latium kemudian disebut bangsa Latin. Pada mulanya, di daerah Latium inilah bangsa Latin hidup dan berkembang serta menghasilkan peradaban yang tinggi nilainya. Menurut cerita lainnya, Roma didirikan dua bersaudara keturunan Aenas dari Yunani, Remus dan Romulus. Remus dan Romulus. Remus dan Romulus ini anak Rhea silva, turunan Aenas –seorang pahlawan Troya yang dapat melarikan diri waktu Troya dikalahkan dan dibakar oleh bangsa Jujani.
Sebelum itu, sekira tahun 492, Daerah Latium sebagai tempat berdirinya kota Roma dikuasai oleh kerajaan Etruskia, yang terletak disebelah utaranya sampai pada tahun 500 SM. Pada tahun 500 SM bangsa Latium memberontak terhadap kerajaan Etruskia dan berhasil memerdekaan diri serta mendirikan negara sendiri yang berbentuk republik. Maka sejak itu, Roma menjadi republik dan kepala negaranya disebut konsul yang dipilih setiap tahun sekali. Konsul selain menjadi penguasa negara juga ketua senat dan panglima besar. Kebudayaan Romawi mendapat unsur-unsur pokok dari kebudayaan Etrusia dan Yunani. Hal ini berarti kebudayaan Romawi merupakan hasil perpaduan dari kebudayaan yunani dan Etrusia, tanapa ada unsur-unsur dari kebudayaan romawi sendiri.
Bangsa Romawi yang semula petani, setelah mengalahkan penguasa Etruskia kemudian menjadi bangsa penguasa besar dengan manaklukan wilayah yang luasa sampai ke Laut Tengah. Bangsa yang semula petani ini kemudian menjadi masyarakat kapitalis dan materialis. Selain sebagai bangsa yang suka dengan perang bangsa Romawi juga mengumpulkan kekayaan sebagai modal usaha. Mereka membali ladang-ladang dan kemudian penggarapannya dilakukan oleh para budak yang didatangkan dari daerah-daerah jajahan.
Penguasa Gayus Julius Caesar meluaskan wilayahnya sampai ke Jerman, Belgia, Belanda dan bahkan sampai menyebrangi selat Calis ke Inggris. Selain sebagai penguasa mutlak Julius Caesar juga mengembangkan kalender baru yang disebut kalender Julian. Kelender ini terus dipakai sampai kemudian diperbaharui oleh Gregorius yang kemudian dikenal dengan dengan kalender Gregorius. Julius Caesar dibunuh oleh Brutus dan Casinus yang menginginkan suatu pemerintahan berbentuk Republik. Akan tetapi, cita-cita kedua orang itu tidak berhasil dan tetap mempertahankan sistem pemerintahan diktator. Anak angkat Julius Caesar bernama Oktvaianus kemudian dapat menguasai Romawi kembali dan berkuasa secara diktator.
Dalam kekuasaannya, Oktavianus banyak dikelilingi orang-orang pandai sehingga ia dapat berkuasa cukup lama. Oleh senat Oktavianus diberi gelar “Augustus” yang artinya “Yang Maha Mulia”. Dengan stabilitas pemerintahan pada masa Kaisar Octavianus maka mulailah bidang kebudayaan mendapat perhatian. Pada masa Octavianus, orang-orang Romawi melihat sesuatu dari sudut kegunaannya. Pandangan hidup bangsa Romawi ini memberikan warna pada kehidupan agama. Tepatlah apa yang diungkapkan oleh Cicero, bahwa agama bagi mereka bukan untuk mendidik manusia kepada kebajikan, melainkan manusia sehat dan kaya. Dengan pandangan hidup yang praktis ini menjadi ciri utama orang-orang Romawi.
Sistem Pemerintahan Romawi
Sepanjang lebih sepuluh abad keberadaannya, Romawi mengalami perang dan damai, kemenangan dan kekalahan, harmoni internal dan perang sipil, kemewahan dan kemiskinan, pemerintahan yang baik dan tatanan politik yang hina, kemajuan dan kemunduran. Kekayaan yang hilang dan sejarh ini banyak yang beragam.
Pada masa ini, bangsa Romawi Kuno mengenal tiga jenis Hukum, yaitu Ius Ceville dan Ius Gentium dan Ius Naturale. Pertama, Ius Cvile , hukum sipil yang secara khusus diberlakukan unttuk kalangan sipil dan warga negara Romawi, bukan warga negara lain. Kedua Ius Gentium adalah hukum yag diberlakukan untuk semua orang, terlepas apapun kewarganegaraanya, tidak memandang nasionalitas seseorang. Ketiga adalah Ius Naturale, suatu prinsip filsafat hukum yang menggangap keadilan dan kebenaran selamanya sesuai dengan tuntutan rasional dan hakikat alam . Hanya saja, pada zaman ini tidak mengalami perkembangan pesat, karena pada saat itu masyarakat dunia merupakan satu Imperium, yaitu Imperium Roma yang mengakibatkan tidak adanya tempat bagi Hukum Bangsa-Bangsa. Hukum Romawi tidak menyumbangkan banyak asas. Asas yang kemudian diterima hanyalah asas Pacta Sun Servanda (setiap janji harus ditepati).
Republik berlalu dengan waktu yang cukup lama. Pemikiran politik Republik dan kekaisaran tersebut berasal terutama dari : filsafat Stoic sebagaimana dipresentasikan oleh Cicero, Seneca, Epictetus. Namun, Romawi tidak terkenal karena teorinya maka adalah karena hukumnya dan meskipun kurang luas, karena adminstarsinya. Dua inilah Romawi meninggalkan warisan kepada barat. Mesti demokratis namun dalam prakteknya tidak pernah terwujud seperti teorinya. Tidak adanya sistem reprsenrasi. Diperlukan kehadiran seseorang untuk memilih dan menjadikan opini didengarkan. memilih konsul dan hakim dan bekerja atas dasar program yang dikerjakan oleh eksekutif. Berakhirnya era republik , ketika kewarganegaaraan diperluas hingga ke provinsi. Karena heegmoni Romawi meluas muncullah admnistrasi yang efektif.wilayah baru dibagi atas beberapa provinsi yang dipimpin oleh pejabat Romawi. Meskipun mendorong meluasnya peradaban Romawi, mereka tidak memperkuat penyeragaman kebudayaan dan kelembagaan di kalangan rakyat.
Dengan perubahan konstitusional yang dipengaruhi oleh Julius dan Augustus Cesar, kekuatan politik berpindah ketangan satu orang. Romawi kehilangan karakter republiknya dan menjadi sebuah kerajaan, pada awalnya secara kenyataan dan kemudian secara bentuk. Dewan rakyat bergeser kepada peran yang tidak signifikan, dan sementara senat memperolh kembali posisi pentingya, ia akhirnya sepenuhnya berada di bwah dominasi kekaisaran.
Dari segi pemikiran politik Romawi memberikan pemehaman kepada barat tentang teori imperium. Teori imperium adalah teori tentang kekuasaan dan otoritas neagra dimaman kedaulatan dan kekuasaan dianggap sebgaia pendelagasian kekuatan rakyat kepada penguasa negara. Berdasarkan teori imperium ini, kekuatan gereja abad pertengahan dkembangkan.organisasi kekuasaan dan keagamanaan gereja Khatolik diadaptasukan dari konsep imperium Romawi. Pengadopsian warisan Romawi itu nampak pada gelar yang digunakan Paus ; supreme Pontiff (Pontifex Maximus) ; kaisar sebagai pemimpin agama warga negara.
B. BIOGRAFI MARCUS TULLIUS CICERO

Marcus Tullius Cicero (106 SM –43 SM) adalah teoritis politik terkemuka pada periode Romawi. Tidak memiliki orisoanlitas sperti pada pendahulunya di Yunani, dia memiliki pengaruh yang kuat dalam pemikiran politik barat. Kebagi pentransimisian konsep- konsep Yunani dan Romawi bagi Eropa abad pertengahan. banyakan ide dan karya Cicero adalah terpengaruh dari pemikiran Plato dan Aristoteles. Cicero menjadi perantara utama bagi pentransmisian konsep- konsep Yunani dan Romawi bagi Ropa abad pertengahan.

Cicero lahir pada 106 SM di Arpinum, sebuah kota bukit 100 kilometer (62 mil) selatan Roma, Italia. Ayahnya adalah baik-untuk-melakukan anggota order berkuda dengan koneksi yang baik di Roma, meskipun sebagai semi-sah, dia tidak bisa masuk kehidupan publik. Ia mengganti rugi ini dengan mempelajari secara ekstensif. Meskipun sedikit yang diketahui tentang ibu Cicero, Helvia, hal itu biasa bagi para istri warga negara Romawi penting yang harus bertanggung jawab atas pengelolaan rumah tangga.

Sejak kecil sudah dididik, diarahkan pada hal-hal yang bersifat klasik dan suatu ketika siap berkarier dalam bidang hukum. Karena minatnya pada sastra yang sangat tinggi, ia rela meninggalkan kota kelahirannya menuju Athena, dan Rhodes. Di kota inilah ia mendalami filsafat dan retorika, termasuk ajaran para stoisisme. Setelah kembali ke Roma, ia menikah dan berkarier dalam bidang politik praktis. Karier politiknya pun cepat menanjak. Ia sempat menjabat sebagai anggota senat.

Cicero julukan, atau nama pribadi, berasal dari bahasa Latin untuk buncis, cicer. Nama ini awalnya diberikan kepada salah satu’s leluhur Cicero yang memiliki celah di ujung hidungnya menyerupai kacang buncis. Namun lebih mungkin itu nenek moyang Cicero makmur melalui budidaya dan penjualan chickpea. Roma sering memilih ke-bumi pribadi nama keluarga-down. Cicero didesak untuk mengubah nama ini deprecatory ketika ia memasuki politik, namun menolak, mengatakan bahwa ia akan membuat Cicero lebih mulia daripada Scaurus (“bengkak-ankled”) dan Catulus (“Puppy”).

Cicero adalah orator dan negarawan Romawi kuno yang umumnya dianggap sebagai ahli pidato Latin dan ahli gaya prosa. adalah seorang Romawi filsuf, negarawan, pengacara, ahli teori politik, dan Romawi konstitusionalis . Dia dianggap sebagai salah satu terbesar Roma orator dan penata prosa. Cicero adalah pemikir besar Romawi tentang negara dan hukum. Pemkiran Cicero banyak dipengaruhi oleh karya-karya Plato dan ajaran filsafat kaum Stoa. Pengaruh yang demikian besar ini nampak dalam dua karya Cicero, yaitu De Republica (tentang negara), dan De Legibus (tentang hukum dan Undang- Undang). Cicero lebih dikenal sebagai seorang filsuf dan negarawan ketimbang seorang pengacara. Hal itu tak terlepas pada kecintaannya akan kebijaksanaan-kebijaksanaan filsafat Yanani kuno baik pra sokratik maupun post sokratik. Cicero adalah salah satu pemikir legendaris di bidang politik pada jaman klasik.

C. PEMIKIRAN MARCUS TULLIUS CICERO

Negara Ideal dan Hukum Alam
Dua karya Cicero, yaitu De Republica (tentang negara), dan De Legibus (tentang hukum atau undang-undang). Dengan demikian ajaran Cicero tentang asal mula negara tidak berbeda dengan ajaran Plato, yaitu melalui perjanjian masyarakat dan kontrak sosial. Namun demikian Cicero telah memodifikasi pemikiran Plato dengan memasukkan pengaruh-pengaruh Stoic didalamnya.

Buku Cicero yang terkenal adalah De Republica (Commenwealth) . Bukunya ini punya kemiripan dengan bukunya Plato yang berjudul Republic. Isinya berbentuk dialog antara para sahabatnya. Topik utamanya berkaitan dengan tema-tema politik dan keadilan. Dalam bukunya ini, ada lima ajaran utama Cicero tentang kehidupan politik dalam sebuah Negara. Pertama, Cicero mengkonfrontasikan pertanyaan kewajiban para filsuf dalam Negara. Kedua, membahas tentang sifat persemakmuran (commenwealt). Baginya, commenwealt adalah sebuah urusan rakyat. Manusia adalah makhluk sosial alami, dan membentuk masyarakat politik. Ketiga, diskusi tentang hukum alam. Menurut Cicero, hukum alam adalah konvensi-konvensi relative yang hanya melayani kepentingan mereka yang berkuasa. Keempat, pembelaan keadilan sebagai sebuah atribut universal dari akal dan dapat diakses oleh semua makhluk rasional. Hal ini bertujuan untuk menentang keputusan-keputusan para pemimpin politik, dan perang yang terjadi atas nama Negara. Kelima, mendiskusikan ciri-ciri penguasa yang baik. Moral baik dan sifat praktis penguasa menjadi kekuatan yang dapat memberi motivasi.

Dalam pandangan Cicero, negara adalah suatu kenyataan yang harus ada dalam kehidupan manusia. Negara disusun oleh manusia berdasarkan atas kemampuan rasionya, khususnya rasio murni manusia yang disesuaikan dengan hukum alam kodrat. Kendatipun ajaran Cicero berbeda dengan ajaran Epicurus yang menganggap negara sebagai hasil perbuatan manusia yang berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun ajaran Cicero ini jelas menunjukkan konsep perjanjian masyarakat tentang asal mula negara.

Dalam mengkonstruksi negara idealnya, cicero menurut model Republik Romawi, dalam bukunya yang berjudul De Republica (On The Commonwealth), Cicero menawarkan sebuah bentuk negara yang menganut konstitusi campuran, yaitu sebuah konstitusi yang mengawinkan kebaikan dari berbagai sistem politik yaitu; sistem monarki, aristokrasi, dan demokrasi. Monarki di mata Cicero dipandang memiliki kebaikan, karena dalam sistem ini keberadaan seorang raja layaknya seorang bapak yang akan mengayomi anak-anaknya. Namun rakyat memiliki bagian yang telalu kecil dan suara yang tidak signifikansi dalam administrasi. Aristokrasi dalam pandangannya pun memiliki kebaikan, yaitu kebijaksanaan akan memimpin dan membimbing negara. Namun kebebasan rakyat terlalu dibatasi karena tidak dilibatkan dalam pembagian kekuasaan politik. Sedangkan demokrasi walau dinilai oleh Plato dan Aristoteles merupakan sebuah sistem yang buruk, bagi Cicero demokrasi juga memiliki kelebihan karena memberi ruang pada rakyat untuk aktif berpartisipasi dalam kehidupan politik. Namun, menurut Cicero ketiganya terlalu mudah merosot karena bentuknya yang jahat (masing-masing memiliki kekurangan yang membusukkannya): monarkhi menjadi tirani, aristokrasi menjadi pluktorasi atau ologarkhi, dan demokrasi menjadi hukum rimba.

Cicero percaya bahwa sifat negara ideal secara esensial bergantung pada pengaturan- pengaturan institusional para pejabat publik. Kepala diantara mereka adalah para senator, dan ia melihat senat sebagai inti sistem hukum dan kekuasaan yang direkomenasikannya. Senat sebaiknya menngontrol kebijakan publik. Kata kunci yang diartikan oleh cicero tentang kekuasaan adalah dominus, ”pakar” kebijakan publik. Bahwa keutamaan senat dalam suatu negara adalah berada dalam konstitusi.

Konstitusi campuran adalah isi dari buku Cicero yaitu de Republica. Menurut analisis Cicero dalam bentuk Republik Roma adalah konstitusi jenis terbaik. Cicero menolak konstitusi- konstitusis sederhana karena kecendrungan untuk terdegradasi menjadi tirani. Cicero lebih menyukai konstitusi campuran seperti Roma dimana memadukan tiga tipe sederhana menjadi satu bentuk pemerintahan yang moderat dan berimbang. Dalam negara semacam ini terdapat terdapat elemen tertinggi atau elemen muliadengan kekuasaan (potestas) bagi magistrat, kewenagan (auctoritas) bagi para tokoh, dan kebebasan (libertas) bagi rakyat. Hak, kewajiban, dan fungsi diseimbangkan secara adil, dengan stiap warga apa pada tingkatan dan posisinya sendiri. Sebagai kesetaraan yang adil dan sejati, konstitysi campuran menghasilakn stabilitas besar, karena penyebab degradasi dikendalikan lewa pembatas- pembatas struktural.

Pernyataan Cicero tentang Konstitusi Campuran, ia memikirkan Republik roma dengan para konsul sebagi pemegangkekuatan raja, senat sebagai pemegang kekuatan aristokrasi, dan tribun-tribun serta majelis-majelis rakyat sebagai pemegang kekuatan demokrasi. Masing masing memeriksa dan menyeimbangkan yang lain.dari pencariannya atas sifat campuran Roma yang berimbang, Cicero menulai sejarah konstitusionalnya dengan pendirian legendaris romulus dan berlanjut melewati kekuasaan tradisional tujuh raja, penghapuswan monarkhi, dan penggantiannnya dengan aristokrasi, hingga pertengahan abad kelima ketika dua belas tabel (twelve Table) diundangkan dan oligarkhi kaum decemvir ditumbangkan

Dalam bukunya kedua, yaitu De Legibus, Cicero memperluas mengenai apa yang disebut hukum alam. Cicero mendefenisikan hukum adalah nalar tertinggi yang ditanamkan ke alam yang memerintahhkan apa yang musti dilakukan dan melarang hak yang sebaliknya. Hukum adalah kekuatan alamiah; ia meruapakn pikiran dan nalar manusis yang cerdas, standar yang digunakan untuk mengukur keadilan dan ketidakadilan. Namun, karena seluruh pembahasan harus sejalan dengan nalar penduduk seringkali perlu membahasnya dengna nalar yang popular, dan memberi nama hukum apa yang dalam bentuknya yang tertulis memutuskan apa pun yang dia kehendaki baik berupa perintah dan larangan. Sebab, inilah defenisi hukum yang biasa dipakai.

Cicero menekankan, hukum apa pun yang dibuat oleh manusia atau tradisi apaun yang mereka praktekkan, yang tidak sesuai dengan hukum alam itu tidak absah. Manusia mngkin saja dipaksa oleh kekuatan fisik penguasa yang lebih superior untuk mematuhi keutusan- keputusan yang bertentangan dengan alam tetapi dia memiliki kewajiban untuk melakukannya. Dengan demikian, manusia bukan merupakan subyek badi hukum yang dibebankan kepadanya melainkan hanya untuk “hukum alami” yang dia berikan kepada dirinya sendiri.

Cicero bersama Plato, dan Polybius adalah pembela gigih dari kegunaan sosial dari agama. Cicero percaya bahwa agama melegitimasi tindakan- tindakan pemerintah dan membujuk para warga negara untuk menghormati institusi- institusi mereka dan penghargaan terhadap para penguasa serta kebijakan- kebijaknnya, jadi mencipatakan satu basis dukungan yang luas dan loyalitas yang bertahan lama. Singkatnya agama adala pondasi mutlak yang krusial bagi pendidikan dan keluhuran sipil, kesatuan dan ketertiban negara. Alasan- alasan Cicero mengapa agama penting bagi negara adalah yang utama, agama memberikan kewenangan kepada negara sehingga memungkinkannya memerintahkan loyalitas dan kepatuhan dari warga negara. Seandainya negara dianggap didirikan oleh dewa, maka seluruhnya yang dikerjakan memiliki legitimasi. Para warga negara yang akhirnya percaya bahwa dewa- dewa selalu mengawasi, akan berhati- hati dalam perilaku individual mereka dan mencermati sikap- sikap buruk mereka, sepertinya akan menuruti petunjuk moral dan komunitas. Akhirnya pengaruh sosial bersih dari agama adalah penjinakan dan menenangkan rakyat. Ia mengangkat rakyat keluar dari kebiadaban dan barbarisme dan menjadi instrumen dalam pembentukan suatu jalan hidup ang harmoni, sempurna dan beradab. Melalui agama sebuah masyarakat yang damai dan tertib adapat diteguhkan, memiliki moral, kegigihan, kekuatan yang diperlukan untuk penjagaan diri dari dunia yang kejam.
Stoicisme
Marzab Stoic, mempunyai asal mula yang sejaman dengan Epicureanisme. Namun demikian, sejarahnya yang lebih panjang, doktrinnya tidak begitu kaku, dan pengaruhnya jauh lebih besar. Stoicisme merupakan mazhab yang mendidik negarawan sebaik para filsuf. Bersama- sama dengan doktrin Hukum universal dan kewargaan dunia, Stoic baru tampaknya menyeru kepada temparamen dan pandangan orang- orang Romawi yang dimasukkan ke dalam sistem politik dan hukum meraka.

Marcuss Aurellius Cicero adalah tokoh terkemuka dari mazhab Stoic, mempersentasekan tipe kebajikan Stoic. Dia bukan hanya menghabiskan waktu secara sungguh- sungguh untuk meditasi, namun mencurahkan 16 jam stiap harinya pada pemerintahan kerajaan Romawi. Tetapi apa yang baik dari semua pelayanan publik stoic ini sebagimana klaim Stoicisme, dunia tidak berarti dan jika kesehatan, kekayaan, atau kekuasaan yang ada pada mereka tidak berguna? Bagi Cicero dan kaum Stoic baru, jawabannya sangat jelas, bahwa hidup adalah seperti permainan. Apa yang nyata adalah bahwa permainan bisa dihadirkan secara benar dan ara pemain bisa memenuhi bagian- bagian mereka secara benar.

Menurut kaum Stoic, Tuhan memberikan setiap individu suatu peran: seseorang mungkin berada dalam kasta pemguasa, yang lain mungkin sebagai budak. Pemain yang baik harus bisa memainkan keduannya; yang penting baginya adalah menerima peran tersebut tanpa berlebihan atau mengeluh dan menjalankannnya dengan baik. Bagian dalam permainan, sebagimana semua hal di dunian ini, semuannya tidak berguna. Namun utuk menjadi pemain yang baik seseorang harus menjalankan fungsinya, apapun peran yang harus dilakukan. Dia harus berupaya menuju kesempurnaan apakah dengan peran sebagai raja ataukah budak karena kebaikan watak terletak pada perbuatan menuju kesempurnaan tersebut. dengan penalaran ini, stoicime memberikan bimbingan kepada para wali maupun pelayan publik.

DAFTAR PUSTAKA

Schmandt, Henry J. 2002. Filsafat Politik : Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno sampai
Zaman Modern, Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Suhelmi, Ahmad. 2001. Pemikiran Politik Barat. PT Sun : Jakarta.
Losco, Joseph dan Leonard Williams. 2005. Political Theory :Kajian Klasik dan
Kontemporer Edisi kedua. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta.

INTERNET:
http://www.wikibooks.com
http://niasmembangun.blog.com/ diakses 22 oktober 2011 15:20 WIB

This entry was published on May 30, 2012 at 7:45 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: